Sosok Zarifa Ghafari, Sempat Pasrah Dibunuh Taliban, Kini Wali Kota Wanita Afghanistan Ini di Jerman

Wali kota wanita pertama di Afghanistan, Zarifa Ghafari, sempat pasrah akan dibunuh Taliban. Hal ini ia ungkapkan pada Kamis (19/8/2021), beberapa hari setelah Taliban memasuki Kabul dan mengambilalih pemerintahan Afghanistan. "Saya duduk di sini menunggu mereka datang. Tidak ada yang menolongku atau keluargaku."

"Saya hanya duduk dengan mereka (keluarga) dan suamiku. Dan mereka (Taliban) akan datang dan membunuhku," kata Ghafari, dikutip dari . Namun, baru baru ini ia berhasil kabur ke Istanbul, Turki, bersama keluarganya. Mengutip , Ghafari kemudian pindah ke Jerman, dibantu tentara negara tersebut yang juga tengah mengevakuasi warga Jerman, Afghanistan, dan para aktivis serta pengacara yang hidupnya dalam bahaya karena membantu NATO kabur.

Dalam video wawancara bersama , Ghafari menuturkan pasukan Taliban mendatangi rumahnya di Afghanistan setelah ia kabur. Taliban, kata Ghafari, memiliki daftar orang orang yang mereka cari. "Mereka mencariku dan juga memukuli penjaga rumah. Mereka punya daftar orang orang yang mengambil pendekatan liberal sebelumnya," ungkapnya.

Menulikan, Zarifa Ghafari lahir di Provinsi Paktia pada 1992 silam. Mengutip , ia dulunya bersekolah di SMA Halima Khazan dan melanjutkan studi di Universitas Punjab, Chandigarh, India. Ghafari merupakan putri dari kolonel Angkatan Darat Afghanistan dan komandan Korps Operasi Khusus, Abdul Wasi Ghafari.

Sebelum Taliban mengambilalih kekuasaan, Ghafari merupakan wali kota Maidan Shahr yang berada di barat Kabul, tempat di mana dukungan untuk Taliban tersebar luas. Dilansir , ia adalah wali kota wanita yang pertama di Afghanistan dan merupakan yang termuda. Ghafari resmi menjadi wali kota saat ia berusia 26 tahun pada 2018 lalu.

Di hari pertama Ghafari menjadi wali kota, kantornya dikerumuni oleh orang orang yang marah. Tak hanya itu, ayahnya ditembak mati militan di depan rumahnya pada 5 November 2020 lalu. Kala itu, Ghafari mengatakan sang ayah dibunuh karena Taliban tidak menginginkan dirinya berada di Maidan Shahr.

"(Pelaku) itu adalah Taliban. Mereka tidak menginginkan saya berada di Maidan Shahr." "Itu sebabnya mereka membunuh ayah saya," katanya kala itu. Pada 2020 lalu, ia terpilih sebagai Wanita Pemberani oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS).

Tak hanya itu, ia juga terdaftar dalam 100 wanita inspiratif dan berpengaruh dari seluruh dunia di tahun 2019 oleh . Zarifa Ghafari menganggap semua orang Afghanistan sama sama bertanggung jawab atas kembalinya Taliban karena "tidak pernah kompak menyuarakan suara mereka" melawan terorisme. "Apapun yang dihadapi Afghanistan hari ini, semua orang harus disalahkan, termasuk masyarakat lokal, politisi, anak anak, dan komunitas internasional."

"Masyarakat lokal tidak pernah bersatu melawan semua yang salah, termasuk terorisme," katanya. Ia mengungkapkan, dirinya tidak bisa memaafkan siapapun karena semua pencapaian selama 20 tahun terakhir di Afghanistan kini hilang begitu saja. "Saya tidak punya apa apa lagi hari ini. Saya hanya membawa tanah dari negara saya," ujarnya.

Tentang Talian yang berjanji untuk membentuk pemerintahan yang direformasi, Ghafari berujar, "Saya tidak peduli apakah Taliban bersikap sendiri atau tidak, karena kami (Afghanistan) tidak terbendung." "Berapa banyak orang yang bisa dibunuh Taliban?" Saat ini, Ghafari sedang mempertimbangkan untuk bertemu pejabat tinggi, politisi, dan wanita dari berbagai negara untuk menarik perhatian terkait situasi di Afghanistan.

"Tujuan saya adalah bertemu pejabat tinggi, politisi, dan wanita dari berbagai negara untuk membuat mereka sadar akan situasi nyata di Afghanistan, dan meminta mereka bergabung dengan saya untuk memulai sebuah gerakan." bebernya. Pekan lalu, Ghafari berbicara kepada India Today TV dan mengaku siap bernegosiasi dengan Taliban jika kelompok itu serius soal janji mereka tentang hak hak perempuan. "Kami siap berbicara dan bernegosiasi. Yang kami butuhkan hanya komitmen mereka (Taliban)."

"Ini bukan tahun 2000, kami punya banyak wanita berpendidikan yang tak akan menyerah." "Mereka perlu mendengarkan kami atau mereka tidak bisa memerintah," urainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.